Saya tidak pernah menyangka akan menjadi peternak ayam. Dulu, hidup saya ada di depan layar komputer: coding, meeting online, dan segudang pekerjaan digital marketing. Tapi hidup punya rencananya sendiri. Dan rencana itu membawa saya pulang ke Madiun—bukan untuk liburan, tapi untuk sebuah panggilan yang tidak bisa saya tolak.

Pulang Karena Harus, Bukan Karena Ingin
Ibu saya terkena stroke. Bapak sudah terlalu tua untuk merawatnya sendirian. Kakak saya tinggal jauh di Kalimantan, tidak mungkin bolak-balik. Jadi, tidak ada pilihan lain. Saya harus meninggalkan anak dan istri di Sidoarjo, dan pulang ke kampung halaman di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.
Jujur, berat sekali. Saya bukan hanya meninggalkan kenyamanan kota, tapi juga keluarga kecil saya. Tapi saya yakin, waktu itu, bahwa ini adalah keputusan yang benar. Saya harus ada untuk Ibu. Meskipun di dalam hati saya bertanya-tanya: “Di Madiun, saya mau kerja apa?”
Kehilangan Pekerjaan di Tengah Perjalanan
Sebagai programmer dan digital marketer, saya terbiasa kerja remote. Awalnya, saya berharap klien-klien saya tetap bisa berjalan seperti biasa. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka tidak mau melanjutkan kerja sama karena saya pindah ke Madiun. Mungkin mereka khawatir soal koordinasi, sinyal, atau apa pun itu. Satu per satu klien pergi. Satu per satu sumber penghasilan saya hilang.
Saya coba mencari pekerjaan di Madiun. Lowongan untuk IT dan digital marketing? Hampir tidak ada. Beberapa kali saya melamar, hasilnya nihil. Pasar kerja di sini berbeda. Saya mulai merasa terjepit: jauh dari keluarga, tidak ada pemasukan, dan tanggung jawab merawat Ibu yang semakin besar.
Satu Tahun Merenung, Satu Keputusan Nekat
Setelah kurang lebih setahun di Madiun, saya mulai berpikir keras. Saya tidak bisa terus begini. Saya butuh sesuatu yang bisa saya kerjakan dari rumah, dekat dengan Ibu, dan tidak bergantung pada lowongan kerja yang tidak jelas. Waktu itu, saya melihat pekarangan belakang rumah yang lumayan luas. Awalnya cuma ditumbuhi rumput liar. Lalu muncul ide: bagaimana kalau saya coba ternak ayam?
Saya mulai browsing. Baca ini, baca itu. Sampai akhirnya saya menemukan satu nama yang terus berulang: ayam Elba. Waktu membaca tentang produktivitasnya—300 butir telur setahun, pakan cuma 70 gram sehari, tidak suka mengeram—saya langsung tertarik. Tapi saya tidak punya pengalaman beternak.
Nol. Sama sekali nol.
Kalau Anda penasaran apa itu ayam Elba, saya sudah menulis lengkap di halaman apa itu ayam Elba. Di situ saya cerita asal-usulnya dari Jeddah sampai Temanggung.
40 DOC, 12 Indukan, dan Banyak Pelajaran Pahit
Saya memberanikan diri membeli 40 ekor DOC ayam Elba. Modal seadanya, semangat membara. Tapi saya segera sadar: beternak itu bukan sekadar kasih pakan dan air. Ada brooding, ada suhu, ada ventilasi, ada penyakit yang tiba-tiba datang tanpa permisi.
Dari 40 DOC itu, satu per satu mulai tumbang. Ada yang mati karena kedinginan, ada yang kena snot, ada yang cuma bertahan beberapa hari lalu tiba-tiba lemas. Saya panik. Saya merasa bodoh. Setiap pagi saya takut melihat ke dalam kandang, khawatir ada yang mati lagi.
Akhirnya, setelah melewati masa-masa kritis, yang tersisa hanya 12 ekor yang berhasil tumbuh menjadi indukan: 2 jantan dan 10 betina. Dua belas ekor. Dari 40. Itu angka yang menyakitkan, tapi juga jadi pelajaran paling berharga dalam hidup saya.
Menjadi “Tukang Dadakan” di Kandang Sendiri
Karena tidak ada yang bisa diandalkan, saya harus belajar semuanya sendiri. Saya yang tadinya cuma bisa pegang laptop, sekarang harus pegang cangkul, palu, gergaji. Saya yang tadinya bikin script program, sekarang bikin ramuan obat ayam cekrek sendiri. Untuk urusan itu, saya sempat menulis artikel tentang cara mengobati ayam cekrek dengan ramuan semprot yang sampai sekarang masih saya pakai.
Saya juga belajar manajemen pakan. Ternyata tidak semudah menuangkan jagung. Ada takaran, ada komposisi, ada waktu pemberian yang menentukan kualitas telur. Saya dokumentasikan semuanya di artikel resep pakan ayam Elba murah yang saya tulis berdasarkan pengalaman langsung.
Belum lagi soal pemasaran. Saya yang tadinya cuma programmer, tiba-tiba harus jualan telur, nawarin bibit, bikin konten, dan ngobrol sama calon pembeli. Semua adalah hal baru. Tapi justru di sinilah saya menemukan sesuatu yang dulu tidak pernah saya rasakan: kepuasan batin yang aneh. Ada rasa bangga ketika telur pertama menetas. Ada rasa lega ketika ayam yang sakit sembuh. Ada rasa syukur ketika ada pembeli yang puas.
Ayam Elba Mengubah Hidup Saya
Sekarang, saya bukan lagi programmer yang kehilangan kliennya. Saya adalah peternak ayam Elba. Saya masih tinggal di Sewulan, masih merawat Ibu, tapi sekarang dengan penghasilan sendiri. Saya bahkan sudah punya website sendiri: Jual Ayam Elba Asli, tempat saya berbagi pengalaman dan menjual bibit.
Apakah ini akhir cerita? Tidak. Ini justru awal.
Saya masih terus belajar. Masih terus memperbaiki kandang, memperbaiki pakan, memperbaiki pelayanan. Tapi satu hal yang sudah saya buktikan: bahkan di situasi yang paling terpaksa sekalipun, selalu ada jalan. Selalu ada peluang.
Untuk Anda yang mungkin sedang berada di titik terendah, saya ingin bilang: jangan menyerah dulu. Siapa tahu, jalan Anda justru ada di pekarangan belakang rumah, seperti saya.
Untuk panduan lengkap dari nol sampai panen, saya sudah menulis panduan ternak ayam Elba untuk pemula. Kalau Anda ingin bertanya atau sekadar ngobrol, saya selalu buka. Kontak saya ada di halaman kontak. Dan kalau Anda sudah siap membeli bibit, langsung saja cek stok di halaman utama kami.
Hidup memang kadang keras. Tapi seperti ayam Elba, kita bisa tetap produktif meski dalam kondisi apa pun. 🐓